Unplanned trip: Make a miserable trip my friend

IMG_8850

Have you ever wanted to go somewhere but you don’t know what to do?

In a random thought, Bali should be my next trip – last stop for a short vacay after several stops for business trips. And hell yeah, I don’t know what to do.

Lalu nanya-nanyalah ke temen kalo enaknya ngapain ke Bali. Lau kayak gak pernah ke Bali aja. Well. Ya sih ya. Tapi ini pertama kalinya ke Bali sendirian. Biasanya sampai di Bali, mobil udah datang (sewa maksudnya), karena perginya berombongan. Tapi kalau sendirian bengong banget nyetir di Bali.

Baca juga: Satu hari di Tabanan

Tadinya mau ikut tur ke pabrik bir, coret. Lalu Ubud Writer Festival, coret. Gegara travel ke Ubud nggak pas jamnya. Kirain kan macam Jogja-Semarang yang ada tiap jam. Ini nggak. Musti cek terus jadwalnya ke Kura-kura. Mau ng-Gocar ke sana mahal pula, pilih buat bayar penginepan ye kan.

Then, one idea came from a friend: why don’t you go to Serangan and cycling. Good idea, udah lama nggak sepedahan, terakhir tahun 2010 kayaknya.

Diantara business trip dari Medan ke Soe di NTT, nggak sempet (atau nggak mau mikir) untuk mencari tahu lebih jauh tentang Serangan and such. Tapi lihat di peta pulaunya nggak jauh dari bandara dan Denpasar, pas lah bagi saya yang sedang cari tempat tak biasa tapi tetap mudah menemukan transport ke bandara.

Salah satu jalan di Serangan
Salah satu jalan di Serangan

Baru dua hari sebelum kedatangan di Bali saya akhirnya memutuskan membooking hotel, Paras Paros. Untuk ukuran kere hore macam saya, ya hotel ini mahal, meski cukup oke. Kamar saya deluxe view laut (baca: kapal nelayan nyender). Saya dapat rate 430rb tanpa breakfast, yang mustinya 200rb sudah bisa dapat kamar enak di Seminyak atau Kuta, dengan lokasi yang mudah dijangkau oleh driver ojek online.

Nelayan di Serangan

Tapi saya masih positive thinking bahwa saya akan mendapatkan pemandangan luar biasa indah ketika sampai di Serangan.

Tapi ternyata. Serangan itu, sepi banget. Proyek reklamasi mandeg, jadinya ya belum jadi. Sampai di Serangan malam hari dan penjor (janur kuning) sudah berderet di pingiran jalan. Rupanya, besok adalah tumpek landep. Yang mana, bisa dipastikan seluruh desa bakalan ke pura untuk sembahyang. Benar saja, pagi-pagi nggak ada warung buka.

Penjor dan kapal
Penjor dan kapal

Makanan terbatas. Dan manggil ojek/taksi online harus dicancel dulu beberapa kali baru dapat driver – sebab jarang banget ada driver mangkal di daerah sini. Lah, sepi banget kuy, hotel cuma ada dua kayaknya, jadi jarang tamu ke luar masuk sebenarnya. Sedang penduduk lokal memiliki kendaraan pribadi.

Begitu siang baru kelihatan banyak banget sampah di mana-mana, dan di depan jalan menuju Serangan ini memang TPA (tempat pembuangan akhir). Lol.

Tentunya bagi turis lain banyak hal yang bisa dilakukan di sini. Di sini ada penangkaran penyu, pura yang cantik, mangrove trip, ketemu hiu, dll. Tapi sekali lagi dalam pikiran saya adalah saya cuma ingin bersepedah di sini, bukan yang lain.

Other side of Serangan
Sudut kampung di Serangan

Pun, yang saya kira pihak hotel menyediakan penyewaan sepeda, ternyata tidak ada. Mau boat trip yang ditawarkan hotel kok rasanya melenceng dari niat awal ke sini: bersepeda. Akhirnya Googling dan dapatlah salah satu penyewaan sepeda di Sanur – yang begitu disamperin TUTUP sodara-sodara!

Astaga, apakah saya sedang sesial ini?

Niat musti jalan, akhirnya mencari sewaan sepeda yang lain di dekat Pantai Sanur, dan alhamdulillah ada. Per-2-jam harga sewanya Rp. 10,000.

IMG_8707

Akhirnya tujuan bersepeda di Serangan beralih ke bersepeda untuk cari makan siang. Salah satu warung favorit saya: Men Koko di Canggu yang menyediakan lawar kuwir endes-marendes. Udah deg-degan sih sebenarnya karena ada upacara hari ini, but alhamdulillah warungnya buka. Ya gelaseh, udah genjot sepeda pepanasan selama 2 jam dengan jalan naik turun dan warung nggak buka? Please!

BUKA DONG YHA!

Makan saya akhirnya!

Lawar Kuwir Men Koko Canggu
Lawar Kuwir Men Koko Canggu

And finally, this trip made me think: impulsive decision will lead you to an unexpected experience, could be good, could be bad. However, you can friend your miserable journey.

It is costly. I paid too much for this: lokasi jauh (Gojek susah), bau karena dekat pembuangan sampah dan jemuran rumput laut, ikan dll, musik yang buruk, pemandangan yang hanya bagus di gambar. Ya, semua ada harganya, meski nggak sepadan dengan ekspektasi. Tempat ini sudah keburu saya booking, jadi rasanya sayang aja kalau pindah ke hotel lain. So, I trapped here.

Saya sebenarnya bisa membuat ini tidak terjadi. Pertama, dengan benar-benar detail mencari tahu, konsultasi ke Google, atau interview teman yang lain. Dan nggak gegabah memutuskan mau tinggal di mana, karena, HOTEL DI BALI ITU BANYAK BANGET.

Entah mengapa saya terlalu pusing buat mikirin mau ngapain di Bali tiga hari. Entah mengapa saya tiba-tiba terlalu senang bahwa saya mau keliling Serangan bersepeda. Sungguh sebuah ilusi. Tapi, mau nggak mau, keputusan sudah bulat dan semua harus dijalani.

Mood jadi jelek, itu sudah pasti. Perjalanan ini jadi menyiksa akhirnya, tapi saya harus bisa betah. Harus bisa berdamai dengan situasi, juga diri sendiri dengan tidak meratapi penyesalan sudah mengambil keputusan ini.

20181027_100652

Cycling healed. Good food healed. And good friends healed this journey.

Iya, harus beraktivitas.

Iya, harus makan enak.

Massimo gelato
Massimo gelato

Iya, harus ketemu teman, sosialisasi. Stress makes you social, and here is a good video about this (judul post ini terinspirasi dari sini). Di Bali, saya bersyukur bisa nodong teman untuk jemput saya. Dan kemarin di Bali, saya bersyukur seorang teman sedang outing kantor jadi saya bisa gabung hahahihi.

Foto ini pinjem punya temen
Foto ini pinjem punya temen soalnya nggak sempat motret sama sekali, hahaha

Coba bayangkan jika, kamu memilih keputusan yang membuatmu terjebak sampai maut menjemput dan kamu tidak bisa mengakhirinya. Dan saya bersyukur perjalanan ini akan berakhir.

Next trip, saya harus tidak malas untuk mikir ke mana, ngapain, di mana, sampai membuat rencana kontijensi kalau bisa.

Cheers.

Ps. Bagaimanapun saya menyesal di sini, sunset-nya cukup membuat hati riang gembira

IMG_8893

4 Replies to “Unplanned trip: Make a miserable trip my friend”

  1. Lebih byk tantangannya y mba… Tapi seruu…

    1. Seperti tantangan hidup, eh 😀

  2. Untung masih ada sunset cakep ya mba.

    1. Hehehe, iya selalu ada keindahan di balik cobaan 😀

Leave a Reply