Tentang bepergian dengan tujuan

How do you decide where to go for your travel plan? And what will you do?

Saya terobsesi dengan traveling. It is, personal matter: I enjoyed not being at home. Ini di masa-masa kuliah ya.

Waktu kuliah, saya mengumpulkan uang banyak untuk traveling. Pulang kuliah, ketimbang nongkrong sama teman – selain nggak punya uang – saya pilih kerja. Supaya saya punya uang buat pergi sejauh-jauhnya dari rumah, dan melihat tempat yang baru, tempat yang asing. Papa saya baru mengizinkan saya pergi ketika saya lulus. Itu jadi motivasi: lulus cepat, then go.

Apakah tujuan saya tercapai? Yes. Meski jarak pendek, tapi kala itu saya travel ke 3 negara: Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ini hal yang baru bagi saya. What an excitement! Pertimbangan saya ke tiga negara itu: ya karena terjangkau kantong saya, saya nabung sendiri kok, tidak minta. Kala itu ada salah satu maskapai lagi jor-joran keluarin tiket murah. You know who. Kala itu, 2009.

Then what? Poinnya apa setelah berhasil memuaskan diri traveling?

Traveling doesn’t cure me from the problem of my life. Kadang, setelah kembali dari traveling, hampir tidak ada hal yang bisa saya ambil, kecuali memposting foto di sosial media. Atau tabungan habis karena traveling. Apakah mungkin saya traveling ke tempat yang salah? Saya tidak tahu.

Oh ya, pernah suatu kali saya mencoba menjadi travel writer. Salah satu tulisan saya pernah dimuat di majalah Garuda Indonesia, dulu belum Colours namanya.

Tapi, realita yang lain: modal jadi travel writer kayaknya nggak cukup. Atau mungkin sayanya yang kurang kekeuh untuk jadi travel writer, karena sebenarnya banyak hal di sekeliling yang bisa ditulis.

What came into my mind was: why I don’t take a job that makes me travel? Paling nggak, ada tujuan travel ke sebuah tempat, ada yang dikerjakan, and will gain some knowledge from it. It is not the knowledge that you cannot apply when you get back home. The knowledge that you can apply in everyday life, especially for the job.

And you gonna be surprised to where the job takes you.

Kenapa nggak ambil beasiswa aja ke luar negeri, kak?

Well, otak udah nggak sanggup sekolah, kak. Tapi karena pekerjaan, saya pernah dapat beasiswa kursus singkat di Jersey, United Kingdom, yang berbonus London, Bath, Bristol, Southampton, Oxford, Brockenhurst, Edinburgh, Glasgow, dan Isle of Arran.

This is not everyday meeting Banksy, here is at Bristol the Naked Man.
This is not everyday meeting Banksy, here is at Bristol, the Naked Man.

Dan satu lagi Australia, yang juga ke 3 kota sekaligus: Sydney, Adelaide, dan Brisbane.

Pokoknya sudah sah ke Brisbane kalau sudah foto di sini :D
Pokoknya sudah sah ke Brisbane kalau sudah foto di sini 😀

Sepertinya saya lebih menyukai traveling model begini. Sambil menyelam minum air. Ya, bisa dibilang ini mungkin excuse karena saya nggak punya uang lebih buat traveling. Cuma bisa mengharapkan traveling gratisan saja. Tapi saya rasa, ini cocok untuk saya karena lebih realistis dan tidak dalam traveling yang utopis.

Dan baru-baru ini, saya mendapat kesempatan yang nggak terduga. Satu benua yang saya idam-idamkan dari dulu: AFRIKA.

Begitu dapat email dideploy ke Afrika, lagu Waka Waka-nya Shakira langsung terngiang di telinga. I’m going to Africa man! And I have a work to do in Africa, which is much more valuable for me!

Children of Isiolo, Kenya
Children in Biliqo village, Isiolo, Kenya

Negara yang saya kunjungi adalah Kenya, nggak hanya ke Nairobi saja, justru tujuan utamanya adalah remote area di Kenya. Kalau hanya jalan-jalan saja ke Afrika, saya nggak akan pernah dapat pengalaman berharga, bertemu manusia-manusia di tempat yang nggak pernah saya bisa bayangin untuk bisa hidup. And they are living there, and I experienced it.

The result, saya lebih banyak bersyukur pada tempat di mana saya dibesarkan: tanah Indonesia.

Saya ke beberapa desa di Laikipia dan Isiolo County (setara dengan provinsi kalau di Indonesia). Perjalanannya hanya pakai mobil, karena pesawat hanya untuk orang kaya.

Dari Nairobi, ke Laikipia dan Isiolo-nya saja sekitar 3-5 jam. Menuju desa-desanya, perlu waktu sekitar 5 jam lagi dengan jalan tanah, berdebu, kadang berlubang. Kadang ketemu burung onta, kadang ketemu jerapah, sempat bertemu gajah. Cuma ngeri ini driver di sini jalannya nggak kurang dari 80 km/jam. Udah macam jalan di jalan tol.

Setelah sekian banyak tempat saya datangi, Kenya adalah salah satu tempat di mana saya bisa mem-value perjalanan saya.

Where I can value water, karena air bukan barang mewah di sana. Desa Merti yang kami datangi, harus berbagi air, dengan desa-desa lainnya, dengan cara digilir setiap tiga hari.

Sebagian besar warga Desa Biloqo di Isiolo Cunty adalah muslim. Karena air terbatas, maka untuk wudhu juga terbatas.
Sebagian besar warga Desa Biloqo di Isiolo Cunty adalah muslim. Karena air terbatas, maka untuk wudhu juga terbatas.

Where I can value vegetables, karena di sana bisa sehari tiga kali HANYA makan daging kambing.

Where I can value electricity and disconnect to digital world, colokan listrik nggak di semua tempat ada, dan tentu saja internet bukan hal yang istimewa di desa.

Where I can value fresh air, debu dan angin adalah teman mereka sehari-hari.

Where I can value natural sound than music that I listened on Spotify. Suatu malam di Merti mereka menyambut kami dengan musik yang mereka ciptakan dari suara mereka, tepukan tangan, dan suara angin. It was so a majestically beauty sound. Saya sih merinding. Di pagi hari, suara angin dan burung saling bersahutan.

Where I can value how to survive in life. Kalau saja saya lebih lama berada di sana, saya jamin saya akan lulus ujian kehidupan. Sudah nggak bakalan mikir apa-apa lagi kecuali bagaimana livestock nggak dimakan hewan liar, atau bagaimana cari air yang lebih dekat.

Rumah di Desa Biliqo, Isiolo County, Kenya
Rumah di Desa Biliqo, Isiolo County, Kenya

Dan saya ke sini untuk bekerja. Bonusnya adalah: merasakan safari di Afrika yang dulu cuma bisa saya lihat di National Geographic saja.

IMG_7325

Cheers,

Fian

Ps. Tapi, apakah saya masih melakukan travel with no purpose? Yha, tentu saja, kadang saya bisa impulsive tiba-tiba ingin ada di mana dan tidak melakukan apa-apa, dan yang tentu saja terjangkau kantong saya.

 

 

One Reply to “Tentang bepergian dengan tujuan”

  1. Jalan-jalan atau tidak jalan-jalan, itu pilihan hidup. Entah kenapa saya selalu gagal mencari cara keluar negeri dengan alasan lain: daftar beasiswa nggak keterima, melamar kerja keterimanya di back office biasa. Mungkin jalannya. Jadinya jalan-jalan harus pakai uang sendiri dengan tujuan wisata. Yang penting semua dijalani dengan ikhlas.

Leave a Reply