Perjalanan ke timur – Kelimutu

Kelimutu_www.fian.me

Sejak Desember 2017, saya bergabung dengan salah satu non-governmental organization yang berpusat di Belanda. Offeringnya menarik: akan banyak travel ke Nusa Tenggara Timur karena ada dua proyek yang dikerjakan di Pulau Timor dan Pulau Flores. Keinginan ke NTT ini menggebu-gebu sejak menonton film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak.

Tanpa pikir panjang, I took that position.

Perjumpaan saya dengan NTT pertama kalinya adalah Maumere, salah satu kota di Pulau Flores.

Sampai di Bandara Frans Seda, saya langsung membuat Instragram story bahwa saya sudah sah menginjakkan kaki di Pulau Flores.

Seorang teman membalas Instagram story saya: “Putar ke kiri, Nona.”

Wait, what?

Saya pun menjawab dengan polos: “Nggak sempat motret sebelah kiri, bro.”

Well, setelah usut punya usut, teman yang lain memberi saya sebuah video. Ternyata maksud dia suruh saya putar ke kiri itu karena lagu asal Maumere ini: Gemu fa mi re. Lol

Apakah pulau ini sesuai dengan bayangan saya seperti di film? Even better!

Musim panas di bulan Mei, ketika saya menginjakkan kaki di Flores pertama kali. Bukit-bukit mulai menguning, langit berwarna biru cerah, dan senja yang mempesona. Saya jatuh cinta.

Tanjung Kajuwulu, Magepanda, Flores
Tanjung Kajuwulu, Magepanda, Flores

Suatu ketika kami melewati Kelimutu dari atas pesawat dari Maumere menuju Denpasar. Pilot Wings Air amat sangat baik hati, kami diajak memutari Kelimutu dari udara! Dan pada kesempatan berikutnya ke Maumere, saya mendapat hari Sabtu dan Minggu, maka saatnya ke Kelimutu!

Sebenarnya, ke Kelimutu paling dekat lewat kota Ende. Jadi untuk penghuni Jakarta, paling enak rutenya: Jakarta-Denpasar-Ende-Kelimutu. Karena pekerjaan di Maumere, maka kami pun start dari Maumere.

Dari Maumere, perjalanan dengan mobil dapat ditempuh sekitar 2,5 jam. Mempunyai kenalan driver yang oke punya untuk ke Kelimutu itu penting banget. Jalanan naik turun berkelok-kelok, kalau drivernya nggak oke, yasalam mual muntah pusing-pusing di jalan. Untungnya kami sudah ada teman driver yang biasa membawa tamu ke Kelimutu, tinggal kontak beliau satu urusan selesai.

Ke Kelimutu ini, urusan yang paling berat adalah bangun dini hari. Karena salah satu kawan ingin melihat sunrise di Kelimutu. Maka, kami start jam 2 pagi. Mata bengkak karena nggak bisa tidur, nggak bisa tidur karena takut nggak bisa bangun, hahaha.

Well, nasib memang kurang baik. Jadi sampai di Kelimutu kabutnya kebangetan. Boro-boro lihat sunrise, rombongan nggak hilang aja sukur. Karena kita memang tidak bisa menebak cuaca yang ada di Kelimutu.

kabut kelimutu_fian

Dari parkiran mobil menuju danau, perlu waktu sekitar 30 menit berjalan kaki – kalau tidak banyak berhenti untuk berfoto. Jalan kakinya santai kok, nggak seperti bayangan saya yang harus naik banyak. Secara saya nggak hobi naik gunung, Kelimutu ini cukup ringan rintangannya buat saya. Tenang, ada tangga menuju puncak, jumlahnya coba hitung sendiri kalau sampai di sana. Kalau menurut banyak artikel, jumlah anak tangganya ada 236. Nggak banyak kan?

tangga_kelimutu_fian

Well, karena nggak banyak yang dilihat kiri kanan karena masih kabut, jam 6 pagi kami sudah berada di gardu pandang paling atas. Kiri-kanan adalah salah dua dari tiga danau di Kelimutu. Tapi karena kabutnya sangat tebal, jadi pemandangannya ya cuma kabut dan pemandangan turis yang berkumpul menanti kabut usai juga.

kelimutu_puncak_fian

Kedinginan, kelaparan, dan tanpa harapan melihat pemandangan, tambatan hati dan perut saat itu hanyalah mie instan dalam gelas, teh jahe hangat dan kain-kain khas Flores – tapi jangan tanya harga kainnya ya, karena saya nggak nanya, hehe.

Satu jam berselang, angin tambah dingin tapi kabut tidak pergi juga. Mulai mengantuk, tetapi tidak ada tempat yang tidak berangin. Haus, tapi takut hasrat ingin vivis. Toilet jauh – toilet tersedia di tengah-tengah perjalanan menuju puncak.

Dua jam berselang, beberapa turis menyerah turun. Monyet yang mulai datang. Kami anaknya selo semua, jadi rugi lah kalau nggak menunggu kabut. Meskipun rasanya ingin turun juga karena angin sangat kencang dan saya sudah menggigil tak karuan.

kelimutu_lokal people_fian

Tiga jam berselang… kabut hilang sedikit demi sedikit. Semua orang mulai heboh. Saya pun juga foto video semuanya, terus kabutnya datang lagi dan menutup danau. Lah -_- Setengah jam berselang… Barulah kabut benar-benar hilang! Terkuak sudah kecantikan haqiqi danau-danaunya.

 

Saat saya ke sana, warnanya ada yang gelap, hijau dan kebiruan. Menurut artikel yang saya baca di Tempo, dari data Balai Taman Nasional Kelimutu menunjukkan, selama 1915-2011, Ata Polo mengalami 44 kali perubahan warna, Nua Muri Koo Fai berubah warna 25 kali, dan Ata Mbupu 16 kali bersalin warna. Tak ada jadwal dan pola perubahan yang pasti. Ata Polo, Nua Muri Koo Fai, dan Ata Mbupu merupakan nama masing-masing danau tersebut.

Jadi, kalau ke sini, musti sabar. Nggak perlu muluk-muluk lihat sunrise, dan yakin kalau pas kabut, kabutnya bakalan cepat hilang. Tiga setengah jam menunggu kabut di tengah udara dingin berangin, lumayan juga sih. Asal sudah persiapan jaket tebal atau selimut, bisa sambil tiduran kok nunggunya, hehe. Sekalian bawa bantal kalau lain kali saya ke sini lagi.

kain Flores_fian

Luv,

Fian

3 Replies to “Perjalanan ke timur – Kelimutu”

  1. Danaunya cantik bangeeeet, kalo punya rezeki pengen deh kesini.

  2. indahnya danau, biruuuuu

  3. Pengen banget bisa ke NTT.. moga someday bisa ke sana

Leave a Reply