5 Hal tidak bijak dalam mengelola keuangan bisnis dan keluarga

calculator-on-the-table

Ibuk Wikan kalau lihat catatan keuangan Ibudanbaju, kepala pasti langsung pening. Macam mana kan ya, catatan minus terus. Dan ternyata mengelola keuangan bisnis dan keluarga itu harus hati-hati, kalau tidak? Nggak bisa belanja, hehehe.

Usaha yang belum stabil tapi tetap harus bayar produksi. Belum lagi kebutuhan si Wikan dan yang terpenting adalah obat lapar mata ibuk Wikan ini, hohoho. Jadilaaaah, catatan keuangan langsung angkanya ajaib, merah semua kalau itu rapot.

Sabtu, 22 Oktober lalu, saya dapat banyaaak banget ilmu dari acara Inspirasi Wanita Vol. 1 yang diadakan Bukalapak dan Hijup di Bukalapak Hall. Pas banget temanya ngomongin “Pintar Berbisnis, Bijak Mengelola Keuangan”.

Karena acaranya di Bukalapak, saya pingin tahu bagaimana kantornya dan saya pun membawa Wikan ke sana. Jadilah Sabtu itu Bukalapak tempat rekreasi kami, eheheh. Nonton video Wikan di akhir catatan ya 🙂

Ini perempuan kecil inpirasiku :*
Ini perempuan kecil inpirasiku :*

Di The Ketuts, kebetulan kami mengelola keuangan masing-masing.

Gaji Ketut itu untuk makan harian kami, bantu keponakan kuliah, dan kadang bantu keluarga yang lain. Setiap bulan uang Ketut tidak tersisa. Bahkan kadang kasbon, wkwkwk.

Gaji saya itu untuk pengembangan bisnis, asuransi, tabungan, ongkos stress (baca: belanja baju dan sepatu), hilir mudik Jakarta-Jogja (karena kebetulan produksi Ibunku Wihikan dan Catmom Nursing Wear masih di Jogja, dan banyak alasan lain untuk tetap hilir mudik ke Jogja).

Kalau usaha lagi butuh modal terpaksa tabungan pecah.

Kalau dari pengalaman para pembicara yang sudah sukses mengelola bisnis sekaligus keluarga: mbak Ayu Dyah Andari (fashion designer), mbak Prita Ghozie (Financial Planner), dan mbak Aya dari komunitas Bukalapak, kayaknya ada yang salah deh dengan pengelolaan keuangan kami.

Dalam catatan saya, ada lima hal yang saya sangat tidak bijak dalam mengelola keuangan di bisnis dan keluarga. Simak ya:

Pertama, saya boros banget!

Saya sangat mudah lapar mata sama yang namanya sepatu, sendal, baju, dan barang bayi yang lucu. Padahal tiap bulan bikin baju sendiri, masih aja tetap lapar mata.

Buat entrepreneur newbie macam saya, kelakuan saya ini nggak patut dicontoh!

Saya selalu mikir, ini ada keuntungan sedikit, dan di situ sepatunya lagi diskon. Pakai dulu ah, bulan depan diganti.

Jreng!

Nah, kelakuan macam saya begini, seharusnya tidak boleh diulangi lagi. *Janjidengandirisendiri *trusdiingkarisendiri

Dua, saya tidak memisahkan rekening bisnis dan keluarga

Ketut sih sudah. Punya saya masih kayak es campur.

Akhirnya saya membuat rekening baru untuk usaha saya. Kepalkan tangan semoga lebih banyak pemasukannya.

Jadi, untuk usaha rumahan macam saya, tetap rekening bisnis dan keluarga harus dipisah. Supaya mudah menghitung pemasukan dari bisnis, dan modal tidak terambil untuk urusan keluarga. Juga sebaliknya.

Tiga, saving saya masih berupa tabungan

Baru-baru ini saya menggunakan deposito, alasan saya, biar malas ambil. Tapi, nyatanya tetap deposito akhirnya harus cair juga untuk nambah modal. Hiks.

Nah ternyata, sebisa mungkin memang kalau mau saving ya jangan bentuk tabungan. Kalau kata mbak Prita, lebih baik kalau niat menabung ya coba investasi yang tidak berisiko seperti: emas, reksa dana saham atau campuran.

Saya sendiri masih takut buka tabungan reksa dana, mungkin ada yang mau sharing pengalamannya?

Kalau emas pernah dan melayang juga akhirnya buat modal nikah.

Trus saya jadi mikir, ada tabungan tanah nggak ya? Kalau mau saya mau banget dong ikutan!

Empat, kadang saya tidak menghitung detail ongkos produksi

Dalam bisnis, pengeluaran untuk produksi semuanya harus dicatat dengan detail.

Nah ini, kadang saya merasa tidak perlu mencatat, misalnya menghitung biaya transportasi pada saat belanja kain.

Bayangkan jika nanti kita punya karyawan banyak, dan ada karyawan yang tugasnya membeli kain. Nggak mungkin dong karyawan pakai uang pribadi saat belanja kain kan? Ongkos produksi yang nggak pernah dicatat ini kan jadi ada, padahal sebelumnya tidak ada.

Bahkan meskipun usaha rumahan, rumah sendiri musti dihitung kira-kira ongkos produksinya berapa. Misalnya penggunaan listrik, air, atau ruangan. Supaya nanti pada saat sudah berkembang tidak kaget lagi. Karena di tempat yang baru pasti ada ongkos-ongkos seperti ini.

Lima, saya abai asuransi

Saya sering banget risih jika mendapat telepon dari asuransi bla bla bla. Ujung-ujungnya pasti saya tolak.

Entah mengapa saya skeptis banget sama asuransi, padahal saya sering dibantu pengobatan dengan asuransi. Saya dapat asuransi dari kantor lama yang saya teruskan hingga saat ini. Nanggung aja gitu kalau diputus ditengah jalan, kan sayang manfaatnya. Dan dari kantor saya sekarang juga dapat asuransi.

Sewaktu opname, saya nggak bayar banyak karena asuransi. Pun Wikan. Plus dengan pelayanan nomor satu.

Jadi, saya merasa nggak perlu lagi asuransi yang lain.

Asuransi adalah pilihan. Kalau kata mbak Prita, fungsinya seperti ban serep.

Analoginya begini: tanpa ban serep, apakah perjalanan dengan mobil Jakarta-Bandung bisa sampai? Pasti bisa dong ya. Tapiii, ndilalah ada musibah ban bocor dan kita nggak punya ban serep, pasti perjalanan jadi terganggu kan ya?

Nah sekarang, jika kita sudah punya usaha, dan tiba-tiba kita mendapat musibah, siapa yang akan ganti rugi.

Misalnya lagi gini. Kita sudah punya toko, di dalam toko kita banyak asetnya pasti. Tiba-tiba terjadi musibah kebakaran. Nah kalau tanpa asuransi bagaimana?

Saran dari mbak Prita begini: semua orang harus punya asuransi kesehatan (Alhamdulillah sekarang ada BPJS). Orang yang memiliki tanggungan baik itu berkeluarga dan memiliki karyawan, sebaiknya memiliki asuransi jiwa/kecelakaan. Dan untuk usaha, sebaiknya punya asuransi yang bisa menanggung kejadian seperti kebakaran, kebanjiran, dan lain sebagainya.

Jadi, sepertinya sedikit demi sedikit saya harus terapkan nih tipsnya. Supaya tetap bisa belanja belanji tanpa harus mengganggu jatah uang yang lain. Hidup belanja! Hidup menabung!

Salam ibuk pusing mikirin duit,

Fian Khairunnisa

Ps. Nah, kemarin saya mengajak Wikan dan Bapak Wikan ke Bukalapak. Wikan seneng banget lihat pemandangan baru. Ngapaian aja si Wikan ya, dan gimana bentuknya hall Bukalapak ini. Yuk mari nonton videonya di bawah sini ya 🙂

Leave a Reply