Menyusui, Awal Mula

Menyusui di depan kolam

Selama hamil, salah satu hal yang paling saya takutkan adalah tidak bisa memberikan ASI untuk bayi saya. Mengapa saya khawatir? Karena payudara (PD) saya kecil, bahkan ketika hamil pun tak tampak membesar. Saya jadi tambah khawatir ketika teman saya yang juga sedang hamil mulai keluar air susunya pada usia kehamilan 7 bulan. Saya jadi sedih sekali.

Kekhawatiran saya mulai berkurang ketika saya mendapat dukungan dari teman busui yang juga memiliki PD kecil dan dia bisa menyusui bayinya lebih dari cukup. Ditambah, ketika hamil usia 9 bulan, air susu pun mulai keluar dari puting saya ketika puting saya pencet. Senangnya bukan main!

Niat saya untuk menyusui eksklusif (sukur-sukur bisa menyusui sampai 2 tahun atau lebih) bertambah kuat. Ya, karena saya ingin yang terbaik untuk anak saya.

Namun, menyusui rupanya tak semudah yang saya bayangkan. Mungkin ibu-ibu lain juga pernah mengalaminya. Setetes air susu bagi saya sangat berarti. Di awal-awal kelahiran Wikan, air susu yang saya hasilkan sangat sedikit. Saya sempat down ketika Mama saya mengatakan bahwa dulu air susunya sampai muncrat-muncrat. Tapi saya tidak.

Saya pun penasaran seberapa banyak sebenarnya air susu saya? Kemudian saya pompa. Hasil pompa pertama saya hanya 20ml, itu pun setelah 4 jam memompa. (Hasil pompa dengan bayi menyusu dengan efektif tentu saja berbeda, bayi yang menyusu dengan efektif akan menghasilkan air susu lebih banyak)

Beruntung saya punya teman dan suami yang sangat mendukung dan menenangkan saya karena bayi baru lahir menyusunya memang sedikit. Untuk bayi usia 1 hari hanya butuh 5-7ml sekali minum (lambungnya hanya sebesar kelereng). Produksi baru meningkat dan meningkat secara bertahap mengikuti permintaannya.

Wikan memang tidak pernah kekurangan air susu. Karena dia tetap saja tidur pulas tuh habis menyusu. Itu artinya dia menyusu dengan baik, dan komentar Mama saya terbantahkan.

Setelah kami pintar nyusu dan menyusui (Wikan sekitar 3 minggu), barulah saya merasakan air susu saya yang banyak sampai baju saya basah, dan sampai muncrat-muncrat. Saya mencoba memerah lagi, alhamdulillah, dalam 10 menit bisa dapat 50ml. Itu pun sisa ASI yang tidak diminum oleh Wikan.

Dari pengalaman saya ini, saya menyimpulkan bahwa busui harus didukung sepenuhnya oleh semua orang, terutama orang-orang terdekatnya. Yang pasti menyusui itu jangan patah semangat. Kalau ada semangat yang patah, harus diingat lagi niat awal dan keyakinan, kemudian berusaha sekuat tenaga agar air susunya lancar jaya, misalnya dengan makan-makanan bergizi (sayur dan buah-buahan). Dan jadilah penyusu garis keras, jangan tergoda oleh susu formula.

Happy breastfeeding!

Leave a Reply