Mencari bahagia dengan kawin lari, benarkah?

kawinlari banner

Beberapa bulan lalu saya mendapat pesan melalui Whatsapp dari orang yang tidak saya kenal. Intinya dia bertanya bagaimana dulu saya bisa menikah dengan Ketut. Saya Islam, Ketut Hindu.

Saya tidak jawab prosedural, karena waktu menikah prosedur kami sudah ada yang urus.

Pertanyaan saya ke si mbak yang mengirimi saya pesan itu. Bagaimana keluarga? Apakah semua setuju?

Lalu selang beberapa bulan kemudian, kawan lama menghubungi. Dia kabur dari rumah karena punya pacar Kristen, dia Islam. Dia mau kawin lari.

Saya pelaku kawin lari. Klise alasannya, saya Islam dan Ketut Hindu. Di keluarga saya, pernikahan beda agama itu tabu. Nggak boleh. Tahun 2013-2014 adalah tahun terberat bagi saya. Dan kawin lari adalah keputusan terbesar yang pernah saya ambil dalam hidup saya dan harus saya jalani sebagai pelarian hingga saya menulis tulisan ini.

Nggak, saya nggak mau berdebat masalah agama di sini. Karena banyakan kontranya daripada pro tentang pernikahan beda agama. Sebelum menikah saya bahkan sudah konsultasi ke ustad-ustad yang ngerti persoalan ini. Bahkan sebelum memutuskan kawin lari, saya sudah mediasi dengan keluarga untuk menikahkan saya. Tentu saja mental. Nggak bisa maksain agama, apa yang telah kita percayai bertahun-tahun, nggak bisa semudah membalikkan telapak tangan. Susah.

Saya nggak bakalan open to discussion for pernikahan beda agama di sini. Maaf, nggak bakalan saya layani. Takut banyak orang tiba-tiba act like God. Karena kebenaran hanya milik Tuhan semata bukan? Manusia tempatnya salah.

Yang mau saya bahas di sini adalah after kawin larinya, entah itu karena perbedaan agama, perbedaan suku, hobi, nggak boleh sama istri pertama – dan ternyata banyak loh orang kawin lari karena mau nikah lagi – atau hal lainnya yang membuat sepasang kekasih harus kawin lari.

Saya cuma bilang ke teman saya, apakah dengan kawin lari masalah kalian akan selesai? Apakah kalian akan bahagia ever after kayak di film-film Disney?

Menurut saya, kalau cuma menikahnya saja adalah perkara mudah. Mau kawin lari? Toh sudah besar ini, sudah cukup umur menikah, tinggal daftar saja, panggil penghulu, pendeta, pandita, beres urusan. Nggak perlu punya pernikahan super heboh, yang penting tercatat di KUA atau catatan sipil.

After menikahnya itulah yang peer. Satu challenge besar sudah dilalui, dan tenyata lebih banyak tantangan besar lain yang musti dihadapi dan diselesaikan.

Bro and sis yang berniat kawin lari. Kawin lari itu nggak enak, sama sekali. Eits, jangan dibayangin yang gitu dong ya, bukan kawin sambil lari-larian loh ini, LOL.

Kenapa nggak enak?

Pasangan kawin lari tidak punya support keluarga yang utuh, bahkan dalam kasus saya, saya nggak diakui lagi oleh bapak saya.

Ini berat. Di saat teman-teman saya yang lain punya support dari keluarga setelah menikah, entah itu finance, pengasuhan anak, atau hal lainnya, kami nggak punya itu.

Yang paling ngenes adalah pas adik saya menikah. Saya bela-belain pulang kampung ke Jogja untuk hadir di pernikahan. She’s my only sister. Nggak mau melewatkan suasana kebahagiaan itu. Tapi selama di gedung resepsi, kami kucing-kucingan, pokoknya bapak saya jangan sampai ngeliat saya. Akhirnya saya cuma ngeliat prosesi akad dari jauh, sambil nangis. Eh tuh anak yang dulu saya ajarin naik sepeda tiba-tiba udah nikah aja. Padahal kayaknya baru kemarin dia saya cebokin pake kaki. Ada yang dulunya gitu nggak ke adeknya? Nyebokin pake kaki? LOL. Ngerusak imajinasi ya? Biarin deh, ketimbang saya nangis, heheh.

Nah, waktu mau foto dengan pengantin, saya musti nunggu bapak saya turun panggung ganti baju dulu. Terus musti dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya biar pas si bapak balik sayanya udah kembali ke pojokan lagi.

Nggak pernah ada lagi foto saya dan bapak di dalam satu frame. Nggak akan pernah ada.

Kalau pulang Lebaran juga nggak enak. Yang mau didatengin menolak didatengin. Jadi sia-sia aja kalau balik kampung. Begitu aja terus sampai Lebaran Kuda ada.

Pas saya lahiran Wikan juga gitu. Beruntung masih punya bude jadi dari keluarga yang nungguin ya bude dan suami. Mama dan papa saya yah… Nggak nungguin kelahiran cucu pertama mereka.

Pas nikah juga nggak enak, karena nggak dapat sumbangan banyak. Iya, jadi pas nikah kan pakai uang tabungan sendiri dan nggak ngundang banyak orang, jadi rugi dong nggak balik modal. LOL.

Dan yang paling nggak enak, bro sis, feeling guiltynya bakalan saya bawa mati. Saya udah nyakitin bapak saya sampai dia nggak anggep saya lagi. Saya nggak tahu lagi musti minta maafnya gimana kalau yang ini.

Dengan kawin lari, bisa memang bersama orang yang kita cintai yang kita ingin hidup bersamanya sampai mati – nah ini pun belum tentu juga kan? Tetapi ada baiknya jika menikah itu dilakukan baik-baik saja. Jangan kayak saya ya, pleaseee. Mohon dipikirkan baik-baik jika mau kawin lari.

Apakah berarti saya nggak bahagia?

Kebahagiaan buat saya adalah kesunyian masing-masing. Ini mungkin jalan sunyi saya menuju kebahagiaan.

Oh iya, satu lagi, jika emang ngebet banget kawin lari, pastikan saja kalian memperjuangkannya bersama-sama. Jangan berat sebelah, jangan mau salah satu dijadikan kambing hitam. Semuanya harus dipikirkan matang-matang supaya nanti nggak tambah hancur berkeping-keping. Harus bersama, hadapi bersama.

Sudah gitu aja dulu. Saya doain yang belum direstui semoga dapat restu. Kalau nggak cari Resti aja, diajak karaoke. Hehehe.

Cheers,

sign_fian

 

 

 

Ps. Referensi apakah kawin lari itu melanggar hukum atau nggak, bisa dilihat di sini ya.

2 Comment

  1. Wuah Mba aku turut prihatin ya. Hanya bisa dukung doakan dari jauh, Semoga hati Bapak mba dijamah. Dilembutkan Allah untuk mau menerima pilihan Mba dan manengakui anak mantu dan mau menemui cucunya. Semoga Bapak berpikir, Mba sudah bahagia dengan keluarga kecil Mba. Tidak ada yang perlu Bapak takutkan. Saya doakan juga suami menjadi Pendamping yang setia. Dijadikan terbaik,termanus,terindah untuk Mba, anak yang dipercayakan Allah kepada berdua dan keluarga besar.

    1. Hehehe, trims sudah mampir dan baca curhatku, mbak 🙂 Terima kasih atas doa baiknya, aamiin ya Robb…

Leave a Reply to belinda888kusumo Cancel reply