Jepit rambut dan hujan kenang-kenangan

samuel painting

Perempuan itu duduk tepat di bawah bulan purnama. Di bangku sebuah taman yang banyak pengemis juga serakan sampah-sampah. Perempuan itu abai saja pada bau sampah yang ada di sekitarnya. Ia hanya mengamati jepit rambut perak pemberian kekasihnya.

Jepit rambut itu didapatnya ketika berulang tahun yang ke dua puluh satu, setahun yang lalu. Dibungkus kotak merah jambu, memakai pita yang juga merah jambu. Padahal kekasihnya tahu, ia tidak suka warna merah jambu. Yang disukainya adalah warna biru. Seperti birunya langit, laut, juga tembok-tembok di kamarnya.

Walaupun kotak dan pitanya berwarna merah jambu, namun permata palsu yang menempel pada jepit rambut itu berwarna biru. Ada tiga buah permata palsu di jepit rambut itu. Bentuknya bundar-bundar. Memang menambah manis jepit rambut itu.

Jepit rambut itu diamatinya terus-terusan. Disorot oleh lampu taman juga bulan sehingga permata-permata palsu itu berkilauan. Tak dihiraukannya seorang pengemis mengulurkan tangan. Yang ia pedulikan hanya jepit rambutnya itu.

Ia sungguh heran sebenarnya, mengapa kekasihnya menghadiahinya sebuah jepit rambut. Padahal ia sendiri sudah tidak memiliki rambut barang sejumput pun. Rambutnya yang indah telah dipangkas tangan suster yang tidak ahli memangkas rambut. Dan para dokter telah membedah kepalanya. Mengeruk isi kepalanya yang hanya berisi nama kekasihnya belaka.

Dokter itu memvonis dirinya terkena kanker otak dan harus segera dioperasi. Jika tidak, umurnya tidak akan lama lagi. Tapi perempuan itu tidak percaya. Ia hanya percaya bahwa kepalanya yang sering sakit itu karena nama kekasihnya yang telah mengekal. Jadi setiap kali kekasihnya itu merindunya, otaknya akan berdenyut-denyut. Lalu ia berlari ke rumah kekasihnya agar kekasihnya tak lama menunggunya.

Jadi, bukan karena kanker otak, ujarnya.

Namun operasi itu terjadi juga. Karena kekasihnyalah yang mendorongnya melakukan operasi. Perempuan itu menurut saja. Apa yang terucap oleh kekasihnya adalah perintah wajib yang jika tidak dikerjakan maka akan berdosa. Perempuan itu tidak tahu apa-apa tentang dosa, namun ketika suara kekasihnya menggema di kepalanya, ia pun gemetar, ketakutan. Terjadilah operasi yang tidak ia kehendaki itu. Ia takut jika operasi itu dilakukan nama kekasihnya tak lagi mengekal dalam ingatannya. Ia akan lupa pada nama kekasihnya.

Ternyata ia salah. Bukan ia yang lupa pada nama kekasihnya. Tapi kekasihnyalah yang lupa pada namanya. Kekasihnya itu juga telah lupa tentang segala tentangnya.

Mulailah kekasihnya itu tidak pernah lagi menjenguknya sewaktu ia dirawat di rumah sakit. Mulai tidak mengiriminya lagi bunga-bunga. Mulai tidak lagi menyuapinya bubur buatan bak seorang koki gagal yang khas rumah sakit. Mulai tidak lagi mengusap seluruh badannya dengan air hangat. Mulai tidak lagi meneleponnya. Mulai tidak lagi mengiriminya pesan-pesan. Apalagi puisi-puisi.

Yang ditinggalkan kekasihnya hanyalah jepit rambut perak dengan tiga buah permata biru palsu.

Kawan-kawannya tidak tahu-menahu perihal kekasihnya itu. Ia menghilang seperti dihisap oleh langit. Seolah-olah langit tidak akan memuntahkannya lagi. Mungkin terlalu dini untuk memutuskan jika langit tidak akan memuntahkannya. Mungkin kekasihnya itu sudah mencoba melarikan diri lewat jembatan pelangi. Namun pelangi tak muncul-muncul juga. Kotanya itu, kota yang banyak polusi dan tidak asri lagi. Jadi pelangi enggan menghiasi langit kotanya lagi.

Jejak kekasihnya benar-benar tak berbekas. Bau sepatu bututnya itu pun sudah tak tercium lagi. Lenyap.

Namun bagaimanapun, perempuan itu tetap percaya bahwa kekasihnya telah dihisap langit. Maka ia selalu berdoa, jika pelangi tidak menjembataninya pulang, semoga hujan mau memuntahkannya.

Sekarang yang menjadi masalah adalah; hujan pun tidak juga turun-turun di kotanya.

Sejak perempuan itu dioperasi hingga setahun setelahnya, hujan tidak turun-turun juga. Ditambah kekasihnya yang hilang. Perempuan itu menjadi gelisah. Sudah ia panggil pawang hujan terbaik seantero negeri, hujan tidak juga turun.

Tidak hanya perempuan itu yang gelisah karena hujan tidak juga turun. Semua orang di kotanya pun menjadi gelisah.

Kota-kota sekarang tidak hanya bau sampah. Tetapi bau orang-orang yang jarang mandi, bahkan mungkin tidak lagi pernah mandi. Orang-orang hanya bisa bermandi keringat ketika siang. Air dihemat-hemat untuk minum, masak, dan mencuci. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan air tetapi tidak terlalu penting pun dilarang. Akan dikenakan denda jika menggunakan air untuk hal yang tidak penting. Menyirami bunga-bunga pun dilarang. Bunga yang tumbuh sekarang hanya bunga kaktus. Pohon-pohon mulai meranggas. Musim buah tak lagi ada.

Apakah turunnya hujan itu ada hubungannya dengan hilangnya kekasihnya? Perempuan itu kemudian menghubung-hubungkannya.

Kekasihnya dulu mencintai hujan. Amat sangat. Jika hujan turun, maka akan dilepaskannya seluruh pakaiannya. Telanjang bulat. Kekasihnya itu lalu berhujan-hujanan serupa anak kecil ingusan. Maka perempuan itu akan menonton saja kekasihnya itu menari-nari dalam hujan.

Hujan hilang. Kekasihnya hilang. Mungkin kekasihnya itulah sang dewa hujan. Dan tari-tarian yang selama ini dibawakan kekasihnya dalam hujan adalah hantaran bagi pembuat hujan di kahyangan. Tari-tarian hujan itu mungkin serupa komunikasi antar lain dunia. Begitu pikir perempuan itu.

Mungkin, pikir perempuan itu lagi, kekasihnya itu kadang mengujinya apakah ia mencintai hujan atau tidak. Apakah hujan masih dibutuhkan atau tidak.

Tentu saja, ujar perempuan itu.

Hujan itu adalah air kehidupan yang sebenar-benarnya. Tanpa hujan tak akan ada lagi kehidupan, terusnya.

Kekasihnya tahu jika banyak orang yang mencintai hujan. Tapi nampaknya orang-orang terlalu abai dengan alam. Tidak mau berkompromi untuk mengundang hujan menggelar pestanya di kota. Pohon-pohon ditebang untuk kepentingan pribadi. Hutan-hutan dibakar dan terbakar karena langit sudah berlubang akibat polusi. Sehingga sinar matahari dengan mudah menyengat apa-apa yang dilaluinya.

Setahun hujan tidak turun. Setahun kekasihnya menghilang. Setahun jepit rambut perak dengan tiga buah permata biru palsu itu ditimang-timang perempuan itu.

*

Sekarang hujan hanya menjadi kenangan saja. Orang-orang sudah mulai terbiasa dengan hujan yang tidak turun-turun juga. Lalu mereka menggali bumi dalam-dalam untuk mendapatkan air. Jika tidak menemukan air, mereka menggali lagi. Terus seperti itu. Rumah-rumah dipenuhi gorong-gorong sekarang. Itu hanya agar mereka bisa mandi. Agar bunga-bunga di halaman rumah mereka mekar kembali.

Sebenarnya, orang-orang mencintai hujan. Tapi sejak isu-isu tentang bumi yang kian memanas, hujan enggan muncul. Batang hidungnya saja pun tidak. Orang-orang kegerahan, kota-kota seperti terbakar. Dinginnya hujan telah kalah oleh panasnya bumi.

Begitupun dengan perempuan itu, hujan telah menjadi kenangan. Kekasihnya juga telah menjadi kenangan. Maka setiap purnama perempuan itu mengenang-ngenang hujan, mengenang-ngenang kekasihnya. Karena selain mencintai hujan, kekasihnya itu pun mencintai purnama. Perempuan itu mengingat-ingat ketika ia dan kekasihnya duduk-duduk di taman, di mana ia duduk sekarang, pada setiap purnama, memandang purnama.

Untunglah masih ada purnama yang mau menghibur perempuan itu. Juga jepit rambut perak dengan tiga permata biru palsu yang selalu ditimang-timangnya.

Namun tampaknya debu-debu sudah menempel pada jepit rambut itu. Memang debu-debu semakin suka saja tinggal di kotanya. Debu-debu sudah memenuhi seluruh kota, juga sampai di celah-celahnya. Got-got yang sudah kering mulai dihuni debu-debu. Tikus-tikus sudah tidak bisa lagi hidup di dalamnya, sebab tidak ada air untuk berenang-renang. Mungkin mereka pun sudah jadi debu.

Jepit rambut perak itu perlu dibersihkan. Apalagi di sekitar permata biru palsunya itu, debu menempel di sela-selanya. Agak sulit membersihkan kotoran di daerah itu. Harus menggunakan peniti atau benda yang berujung runcing. Apalagi warna peraknya sudah tidak begitu perak. Sudah hilang kilau-kilau peraknya. Namun perempuan itu hanya punya kukunya yang panjang dan baju yang juga berdebu.

Dengan disoroti sinar bulan dan sinar lampu taman, perempuan itu memerhatikan jepit rambutnya sejenak. Ia belum pernah mengenakannya sekalipun. Rambut-rambut di kepalanya sudah tumbuh memang. Tetapi masih belum terlalu pantas mengenakan jepit rambut itu karena kurang panjang.

Kemudian, sela-sela permata biru palsu itu ia bersihkan dengan kukunya. Sehingga keluarlah bunyi ‘krik’ yang membikin gigi ngilu. Para pengemis menjauh, tidak tahan dengan bunyi itu. Namun perempuan itu tetap saja menggosok-gosokkan kukunya pada sela-sela permata biru palsu itu. Debu-debu itu sudah kronis menempel di situ. Sekuat-kuat tenaga kemudian dikeluarkan perempuan itu untuk menyigi sela-sela permata palsu yang penuh debu. Sehingga kuku ibu jari kanannya patah. Perempuan itu meringis, namun tak dihiraukannya, ia masih mempunyai sembilan kuku panjang sebagai cadangan jika kukunya patah lagi.

Setelah menghabiskan lima kuku di jari-jari kanannya, barulah permata-permata palsu itu mulai kelihatan jelas ujudnya. Seperti permata asli saja. Padahal, perempuan itu tidak pernah tahu bagaimana kilauan permata yang asli. Dia belum pernah melihat permata. Negerinya sekarang sudah banyak kehilangan batu-batu mulia. Orang-orang terlalu serakah mengeruk-ngeruk gunung. Menambang pasir, timah, tembaga, minyak, emas, permata, juga perak tanpa menghiraukan keturunan mereka kelak.

Kemudian ia membasuh jepit itu dengan ludahnya. Lalu digosok-gosoknya dengan bajunya. Namun tak juga berkilau. Memang sudah mengkronis debu-debu itu. Diludahinya lagi. Digosok-gosoknya lagi. Kali ini dengan pangkal telapak tangannya, digosoknya kuat-kuat.

Sekuat-kuatnya perempuan itu menggosok jepit rambutnya hingga tangannya tergelincir, tajamnya sisi jepit rambut itu merobek kulitnya, dan terkenalah urat nadinya. Darah muncrat dari situ. Banyak sekali. Darah mengucur dari urat nadinya seperti air dari kran. Taman berubah jadi merah. Merah semerah-merahnya merah. Merah yang pekat, yang kental. Orang-orang melongo saja, menyaksikan darah muncrat dari tangan perempuan itu.

Hujan, hujan!

Orang-orang berteriak hujan. Padahal tidak ada hujan, hanya darah yang muncrat dari tangan perempuan itu laksana air dari shower raksasa. Namun orang-orang tetap berteriak.

Hujan, hujan! Akhirnya! Hujan!

Orang-orang bersorak-sorai sambil tengadah ke langit. Hanya gelap yang sia-sia. Namun, bulan purnama tak lagi nampak, tertutup awan hitam pekat.

Hujan akan segera datang!

Perempuan itu terkulai lemas disaksikan purnama yang mendadak hilang di balik awan hitam. Jepit rambut perak dengan tiga permata biru palsu itu segera menjadi merah terkena darah. Jepit rambut itu masih ada digenggamannya. Hanya itulah harta yang ditinggalkan kekasihnya.

Orang-orang menengadahkan tangan mereka. Merasakan hujan pertama setelah setahun lebih tidak ada hujan. Rupanya hujan benar-benar datang!

Lalu hujan pun datang benar-benar lebat. Selebat-lebatnya. Air hujan menyebarkan merah darahnya ke seluruh kota. Lalu perempuan itu menarik nafas penghabisan dan membawa hujan sebagai kenang-kenangan.

*

Fian Khairunnisa

Jogja, 24 Maret 2011

*) Harapan di Forum Sastra Bumi Pertiwi 2011

**) Ilustrasi: Samuel Burton’s Walking through Evening field

Leave a Reply