Eco & Compact Living, hunian urban di masa depan

Ibu dan Wikan di kantor pemasaran Prajawangsa City

Sejak menikah, saya pun benar-benar menjadi manusia urban Jakarta. Sejak itu pula, kami gemar berpindah kontrakan. Kalau dihitung, sudah kali ke empat kami pindah. Alasannya karena kontrakan tidak nyaman.

Tetapi pada akhirnya kami pindah karena kami memilih lebih dekat dengan tempat kerja kami di dekat TB Simatupang.

Kontrakan yang sekarang adalah rumah petak berukuran 3×10 meter, dengan satu kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dapur dan kamar mandi. Sangat cukup untuk keluarga kecil kami.

Dari hasil berpindah-pindah ini, kami jadi pengepul kardus plus menyicil barang lainnya: supaya nanti kami tidak susah cari kardus lagi untuk pindahan dan tidak perlu mencari barang lagi untuk mengisi rumah kami sendiri nanti (punya rumah sendiri ini harus di-amin-i, aamiin).

Kemudian lahirlah Wikan. Barang kami pun semakin banyak. Gimana nggak? Setiap kali ada yang lucu, beli. Murah, beli. Beli satu gratis satu, beli. Ulala, jadinya gunungan baju Wikan (terutama saya) bertambah banyak.

Lemari sudah overload. Ruang makan jadi korban dari gunungan baju ini. Plus kardus-kardus dan barang sayang dibuang menjadi sebuah misteri yang tak terpecahkan. Saya orangnya, nggak tegaan buang barang. Tapi kalau Pak Ketut bilang, saya ini pengepul barang -_-.

Pertanyaannya: dengan ruang yang terbatas yang kami huni sekarang, apakah barang-barang menumpuk itu yang saya butuhkan? Dan apa solusi cerdasnya supaya rumah kecil bisa tampak selalu rapi?

Pertanyaan saya pun terjawab pada acara yang digelar oleh Prajawangsa City dengan tema “Eco & Compact Living”. Acara yang digelar 19 November 2016 itu, mengundang pembicara Rabani Kusuma Putra dari Nimara Architects dan Bayu Fristanty dari Rapi-Rapi Professional Organizer.

Event ngobrol cantik bersama Prajawangsa City "Eco & Compact Living", dari kiri ke kanan: Bayu Fristanty (Rapi-Rapi Professional Organizer), Rabani Kusuma Putra (Nimara Architects), dan Kartika Putri Mentari (Blogger Perempuan)
Event ngobrol cantik bersama Prajawangsa City “Eco & Compact Living”, dari kiri ke kanan: Bayu Fristanty (Rapi-Rapi Professional Organizer), Rabani Kusuma Putra (Nimara Architects), dan Kartika Putri Mentari (Blogger Perempuan)

Solusi Ruang Terbatas

Mas Rabani yang biasa disapa Iron ini bercerita tentang ruang untuk manusia di masa mendatang.

“Ruang gerak manusia akan terbatas, karena di masa mendatang manusia akan hidup di dalam ruang terbatas,” kata Mas Iron.

Kalau saya lihat iklan-iklan perumahan sekarang ini, pilihan rumah ukurannya sekitar 35 meter persegi, dengan tanah berukuran 50-60 meter persegi. Harganya? Bikin deg-deg ser bisa nggak ya saya ngelunasinnya dalam jangka waktu belasan tahun.

Dan lokasinya pun? Jakarta coret.

Dilihat dari ruangan yang terbatas ini, kata Mas Iron ini adalah tantangan. Bagaimana agar ukuran yang terbatas tersebut bisa mengakomodasi kualitas hidup kita. Salah satunya adalah dengan desain interior yang benar.

Beberapa cara dalam mewujudkannya adalah dengan mengadopsi tipologi bangunan galeri yang dirancang secara modern dan fungsional sehingga dapat memberi value yang lebih pada kehidupan, serta pemilihan perabotan yang compact supaya meminimalisir penggunaan barang dan perbanyak space untuk sirkulasi.

Saya suka dengan konsep Mas Iron yang menciptakan desain-desain yang ramah lingkungan, efektif dan efisien. Ada enam aspek yang disampaikan pada hari itu:

  1. Energi

Misalnya memanfaatkan energi dari matahari dengan memasang panel surya di rumah.

Contoh solar house. Image credit: Zoel Radio.
Contoh solar house. Image credit: Zoel Radio.
  1. Tanah

Paling tidak, jika membangun landed house, 30% dari lahan harus disisihkan untuk tidak dibangun. Sehingga bisa difungsikan sebagai taman bermain anak, bercocok tanam atau penghijauan, juga area resapan.

FYI, tentang sumur resapan dari Kementerian Lingkungan Hidup, air hujan yang jatuh ke halaman kita setidaknya 85% harus bisa diserap oleh halaman rumah agar tidak menggenang dan membuat banjir.

  1. Air

Bahwa konsep yang smart adalah di mana air yang jatuh harus diresapkan ke tanah sendiri. Air tidak boleh dibuang ke tetangga, karena tetangga bisa kebanjiran dong. Bisa juga dengan cara memanen air hujan (rain water harvest), sehingga air bisa dipakai ulang untuk mandi, toilet, mencuci, bersih-bersih, menyiram tanaman, dan lain sebagainya.

Salah satu contoh sistem pemanenan air hujan di rumah. Airnya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari. Image credit: TARU Leading Edge, India.
Salah satu contoh sistem pemanenan air hujan di rumah. Airnya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari. Image credit: TARU Leading Edge, India.
  1. Cahaya dan udara alami

Desain yang efektif dan efisien mampu mengakomodasi sirkulasi udara silang dan juga cahaya alami (matahari) mampu menyentuh ruang dalam.

  1. Eco Material

Pilihlah material yang kontekstual, waterbase, dan menggunakan bahan-bahan yang bisa direcycle seperti kayu dan batu-batuan alam.

  1. Smart Design

Apa itu desain yang smart? Yaitu bisa memaksimalkan fungsi ruang, tidak terlalu banyak menggunakan material dan less energy.

Contoh smart and compact design: tempat tidur bisa dijadikan sofa. Image credit: Nimara Architects.
Contoh smart and compact design yang fungsional: tempat tidur bisa dijadikan sofa. Image credit: Nimara Architects.

Kiat yang paling penting untuk ruang terbatas dari Mas Iron adalah pilih dominan material dua sampai tiga warna. Jangan pilih warna nano-nano kalau kamu bukan Diana Rikasari, eheheh.

Quote dari Mas Iron yang mantep banget nih:

Kualitas hidup manusia tidak ditentukan oleh besar-kecilnya hunian, melainkan bagaimana hunian itu mampu mengakomodasi kebutuhan manusia untuk berinteraksi.”

Ya, ini adalah masalah kualitas hidup, yang lebih efektif dan efisien. Kayak saya yang sekarang lebih memilih tinggal dekat dengan tempat bekerja, dan yang paling terjangkau oleh saya saat ini adalah mengontrak rumah petak. Supaya hidup saya tidak habis di jalan, namun masih bisa layak hidup.

Ini sama halnya dengan Anda yang memilih tinggal di apartemen: mobilitas tinggi (karena lokasinya cenderung dekat ke kota), namun komposisi ruangnya compact dan ‘intim’.

(Dan mulai mikirin untuk punya rumah sendiri… aamin lagi)

Mulailah Menata Barang

Familiar dengan gambar di atas? Image credit: Presentasi Rapi-Rapi Professional Organizer.
Image credit: Presentasi Rapi-Rapi Professional Organizer.

Familiar dengan gambar di atas? Pernah kesulitan mencari satu barang di rumah karena lupa meletakkannya di mana? Atau baju yang terselip di sana sini? Pernah kesulitan juga untuk menata ulang barang, akhirnya menyerah dan membiarkan barang tersebut sampai menumpuk?

Tantangan yang lain bagi orang semacam saya adalah: cuma punya ruang seupil, tapi keinginannya banyak. Walhasil, di sana-sini adalah gunungan barang.

Nyambung Mas Iron, Mbak Bayudari Rapi-Rapi Professional Organizer pun mengeksplorasi cara hidup yang compact dan mendemokan sedikit kiat untuk menata barang di rumah. Mbak Bayu dari awal sudah mewanti-wanti untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Karena, belum tentu yang diinginkan itu dibutuhkan.

Ini ada kiat-kiat dari Mbak Bayu untuk menata isi rumah kecil, compact, tapi tetap rapi dan nyaman.

  1. Review dan Asses

Pahami perilaku dan rutinitas kita di dalam rumah, pilih ruang mana yang bakalan jadi prioritas untuk di tata ulang. Kita sendiri yang paham siapa diri kita. Apa yang kita sebenarnya butuhkan.

Sehingga hidup di rumah kecil, kita saya harus mulai pintar-pintar menilai barang apa yang benar-benar dibutuhkan untuk keseharian di rumah.

  1. Sort and Group

Mulailah menyortir barang yang saat ini dimiliki dan memang dibutuhkan. Kemudian, kelompokkan sesuai fungsinya, misalnya kertas dengan kertas, alat tulis dengan alat tulis, daleman ya daleman, perhiasan dengan perhiasan.

Nah kalau saya paling gampang adalah menyortir buku dengan buku. Hihihi. Secara barang yang paling banyak setelah baju di rumah itu adalah buku.

Beberapa koleksi buku di rumah.
Beberapa koleksi buku di rumah.
  1. Place it

Karena setiap barang itu memiliki ‘rumah’ sehingga berikan tempat layak bagi barang yang Anda miliki. Contoh sederhana adalah buku mesti di rak buku, baju ya di lemari baju atau di drawer.

Jangan kayak saya suka sembarangan kalau naruh baju, kadang kalau belum sempat beres-beres, baju saya main gantung di mana-mana -_-.

  1. Maintain

Kalau semua itu sudah dilakukan, pertahankan sistem yang sudah dijalani. Misalnya saja luangkan waktu beres-beres satu minggu sekali, secara konsisten. Dalam satu minggu itu harus ada barang yang direview kembali, apakah barang tersebut benar-benar kita butuhkan atau tidak.

Ada satu kiat yang paling saya suka dari Mbak Bayu, yaitu:

the rule of in and out.

Sebulanan terakhir ini memang sudah saya lakukan. Misalnya saya menginginkan sebuah baju, maka satu baju harus keluar dari lemari. Maksudnya keluar adalah bisa didonasikan atau dijual. Saya tidak mungkin bisa menambah lemari saya kan? Tidak punya ruangan lagi.

Ini sedikit barang hasil sortir setelah ikutan event. Barang-barang sebelumnya tidak sempat terfoto, keburu jengah, hihihi.
Ini sedikit barang hasil sortir setelah ikutan event. Barang-barang sebelumnya tidak sempat terfoto, keburu jengah, hihihi.

Ngomong-ngomong soal lemari, ini ada kiat-kiat lagi untuk menata lemari dari Mbak Bayu di video di bawah ini ya.

Nah ini PR saya. Ruangan di bawah ini adalah ruang multifungsi kami. Ruang makan, lemari pakaian, dan gudang.

Pe-er saya selanjutnya adalah menyortir 'gudang' ini.
Pe-er saya selanjutnya adalah menyortir ‘gudang’ ini. Sebenarnya malu banget mau dipasang di sini, tapi biarin ajalah, siapa tahu lebih semangat beres-beresnya 😀

Eco & Compact Living is the future

Beruntung sekali hadir di event ini, karena bisa lihat langsung bagaimana sih hunian yang compact yang memiliki smart design tapi tetap artistik yang akan dibangun oleh Prajawangsa City.

Ternyata, ruang kecil pun bisa bagus banget kalau ditata dengan baik dan benar. Hunian-hunian seperti ini tampaknya akan jadi juara di masa depan, karena sifatnya yang mengakomodasi manusia urban dengan mobilitas tinggi, tetapi tetap butuh kualitas hidup yang lebih baik.

Hunian kami saat ini kecil, tapi sama sekali tidak smart, apalagi artistik dan rapi.

brosur-prajawangsa

Prajawangsa City adalah proyek superblok terbaru di area Jakarta Timur, yang terdiri dari 8 tower dengan jumlah 4000 unit. Di tangan developer Synthesis Development, Prajawangsa City nantinya akan mengusung ciri khas strategis, seru, dan semarak.

Lokasi? Tentu saja di Jakarta.

Aksesnya mudah ke kawasan di TB Simatupang di mana saya bekerja. Cocok! Cuma 3.5 km dari rencana pembangunan Stasiun Light Rail Transit (LRT) Kampung Rambutan, 3.8 km dari Gerbang Tol Jagorawi, dan akses langsung ke Bandara Halim Perdana Kusuma.

Ini hasil intipan saya di salah satu modul kamar Prajawangsa City. Gimana nggak ngiler coba?

Ini contoh apartemen di Prajawangsa City dengan tipe tiga kamar tidur:

Nah, ini contoh apartemen di Prajawangsa City tipe dua kamar tidur:

Nantinya, superblok ini akan menghadirkan fasilitas yang lengkap dengan 2 konsep: unique thematic park dan unique amenities. Unique thematic park terdiri dari area spice garden, herbal garden, tropical garden, area barbeque, 1 km jogging track, kids pool, thematic pool, fountain plaza. Unique amenities melingkupi restoran, coffee shop, fitness center, sauna, access control, ATM center, sistem keamanan 24 jam, juga lengkap dengan pusat perbelanjaan terbesar dan modern.

Keunikan lainnya, superblok ini akan dibangun dengan 50% area hijau sebagai taman dan tempat bermain anak-anak. Selain itu, superblok ini akan memenuhi kebutuhan pasar karena semakin meningkatnya potensi investasi di wilayah TB Simatupang.

Untuk harga? Jangan khawatir, harganya start from 300-an juta! Cukup terjangkau kan ya, apalagi tiap tahun harga properti selalu naik. Dan kemarin waktu nanya ke marketingnya, sudah hampir dipesan semua. Tidaaaak!!!

Untuk lebih lengkapnya bisa berkunjung ke website Prajawangsa City.

Habis ini mau rayu Pak Ketut ah, siapa tahu beliau segera tergerak hatinya untuk segera bekerja lebih keras lagi untuk bisa beli apartemen ini. Ayok, minta bantuan aamiin lagi dong ya, aamiin.

Yang pengen punya rumah,

sign_fian

4 Comment

  1. Ya Ampun ituh bukunya bikin ngileerr ^___^

    1. Hihihi, ini yang paling susah adalah ‘membuang’ buku, hiks. Seumur-umur belum pernah melakukan. Thanks sudah berkunjung ya, mbak. 🙂

  2. Hi Mba…

    Gudangnya pun sama seperti gudangku. Perlu waktu ngeberesinnya.
    Suka deh dengan blognya.
    Jangan bosan ikut acara BP ya….

    1. Hi Mbak Desy, thanks kesempatannya untuk ikut acara BP, senang sekaliiii 🙂 Undang-undang lagi ya, mbak kalo BP ngadain acara, jangan bosan, hehehe. Thanks sudah berkunjung, sampai ketemu di acara berikutnya 🙂

Leave a Reply