Cerita Catmom: Terima kasih teman

sita-bf-peach

Akhirnya kami beri nama Catmom. Catmom, karena adik saya pecinta kucing, dan saya seorang ibu. Sesimpel itu. Kami ingin menjadi teman yang paling dicintai, seperti kucing yang dicintai juga, dielus-elus, dikasih makan, disayang-sayang.

Dan membuat project Catmom adalah terapi bagi saya.

Sebelum melahirkan, saya tidak pernah tidak bekerja, selalu berpenghasilan dan banyak aktivitas. Bahkan saya memiliki pekerjaan yang sangat keren: ibu pengganti orangutan! Kantor saya di hutan, kerjaan saya mengasuh orangutan.

Tapi ini bukan cerita tentang anak orangutan saya.

Tiba-tiba semua kegiatan bekerja berhenti setelah Wikan lahir. Kebetulan memang project habis dan memang saya sengaja untuk mengasuh Wikan sendiri. Anggap saja ini cuti bekerja – tidak punya kantor jadi ‘cuti’ ini tidak dibayar 😅

Tiga bulan pertama ‘cuti’ ini berhasil. Tapi saya belum berani meninggalkan Wikan untuk bekerja lagi. Saat itu saya khawatir akan mengganggu ASI ekslusif Wikan, karena memang komitmen untuk memberikan ASI secara langsung paling tidak selama enam bulan.

Kenyataannya: keuangan mulai gonjang-ganjing. Godaan belanja online sana-sini, tapi gaji suami hanya cukup buat makan, tidak lebih.

Saya mulai stres. Di rumah berdua saja dengan Wikan kalau Bapak Wikan berangkat bekerja. Ini tidak bagus bagi saya dan Wikan. Karena saya malah sering memarahi Wikan kalau menangis (maafkan ibu, nak).

Sedih banget karena rasanya tidak berguna. Mengurus Wikan nggak becus, mengurus diri sendiri pun tak beres: jarang mandi, tidak pernah dandan, dan bau ketek.

Maka, dengan segala kemampuan saya pun mencari kegiatan agar saya tidak bosan namun bisa menambah keuangan keluarga kecil kami.

Apa yang saya bisa? Kampanye, karena dulu terbiasa kampanye untuk orangutan, saya ingin membuat kaos yang bisa menyuarakan banyak hewan. Akhirnya saya membuat Catmom Project di awal tahun 2015. Dibantu adik saya, Bella, kami berdua berkomunikasi Jakarta-Jogja.

Ternyata ide nggak semulus itu. Ide harus diimplementasikan. Sebagai pendatang di Jakarta, akses saya terbatas sekali, misalnya tempat beli kain, mencari penjahit, dan sebagainya.

Beruntung dulu sempat berkenalan dengan merchandise di kantor lama dan masih menyimpan kontak pembuat kaos di Jogja. Diputuskan agar semua produksi di Jogja.

Kami bereksperimen jarak jauh melalui email, Whatsapp, JNE, Pos Indonesia, Wahana – terima kasih tak terhingga teknologi dan kecepatan layanan delivery ini. Akhirnya kaos pun jadi dan layak jual. *elap keringet sambil nyusuin Wikan.

Di tengah perjalanan di tahun 2015, Catmom Project berkembang menjadi baju menyusui. Kami tetap mempertahankan Catmom Project untuk desain yang berhubungan dengan kampanye, dan untuk baju menyusui ada di Catmom Nursing Wear.

Akhirnya saya punya baju menyusui! Setelah sekian lama mupeng lihat baju menyusui di Instagram dan website, saya akhirnya punya juga. Dan saya ingin membagi kebahagiaan ini.

Bahwa bisa menyusui itu adalah hal yang paling membahagiakan bagi seorang ibu – meski banyak ngeluh capeknya. Bahwa pakai baju menyusui itu adalah hal yang paling praktis buat ibu menyusui. Apalagi buat saya yang saat ini sering bepergian sehingga sering menyusui di ruang-ruang yang tak terduga: pesawat, kereta, bus, taksi, rumah makan, pameran, salon.

Marah-marah saya ke Wikan juga berkurang, tapi gantinya adalah marah-marah ke Bella, hahaha. Jahitan nggak rapi, salah beli kain, nggak punya model buat difoto, dan modal kurang. LDR ini menyiksa, tapi rasanya ada hal yang menyenangkan: menjadi bos untuk diri sendiri.

Catmom Nursing Wear sudah berjalan lebih dari satu tahun. Kami sudah sempat mencicipi bazaar (yang sepi), sehingga tidak balik modal malahan nambah banyak uang keluar, hahaha.

Dan yang paling luar biasa saya rasakan hingga saat ini adalah, dukungan teman-teman. Ya, saya bisa dapat model (gratisan), fotografer (gratisan), make up (gratisan), dan teman-teman beli kaos Catmom tanpa minta diskon. Itu adalah sesuatu… yang saya hanya bisa ucapkan thank you… *mbrebes mili…

Yang seru adalah model dan fotogafer baru saja punya bayi, jadilah para bayi ini dibawa. Trus si pengarah gaya pun lagi hamil 35 minggu. Kebayang kan hebohnya di sela motret sambil nyusuin?

Mudah-mudahan dukungan teman-teman ini nggak sia-sia ya. Semoga kami benar-benar menjadi teman ibu menyusui yang bikin bahagia.

Terima kasih telah menjadi teman kami. Teman baik kami.

Salam,

Fian Khairunnisa

Tim photoshoot_catmomnursingwear.jpg
Tulisan ini untuk mereka: Umi (dan Terra), Selly, Intan (dan Satria), Bella (dan jabang bayi), dan Yute. Saya nggak ada di foto ini karena kantong bolong mau ke Jogja, eheheh.

Dan di bawah ini adalah foto karya Intan Agisti, modelnya Umi dan Selly, make upnya Yute, pengarah gaya Bella. Terima kasih kerja keras luar biasa sambil momong bayi-bayi, dan jalan ngangkang karena mau lahiran. Semoga kalian sehat selalu.

This slideshow requires JavaScript.

 

Bonus: behind the scene:

behind-the-scene

behindthescene

 

4 Replies to “Cerita Catmom: Terima kasih teman”

  1. Sukseeees selalu ya mba.. Model nursing wearnya cakep-cakep :). Salam kenal..

    1. Hi Mama Bo et Obi (duh manggilnya apa ya, mbak?), makasih udah mampir ke sini, yang baik-baik musti di-amin-i. Salam kenal juga ya, mbak 🙂

  2. semoga produknya bs makin banyak ke depannya mbak.. ga cuma nursing wear ;)..

    1. Aaa terima kasih sudah mampir, mbak Fanny. Iyah, mudah-mudahan bisa merambah yang lain juga 🙂 Aamiin.

Leave a Reply