BPJS Oh BPJS

Kami memang bersiasat untuk menekan biaya kontrol dan melahirkan serendah-rendahnya. Kontrak saya dengan sebuah proyek akan segera habis tepat HPL saya, dan tidak mungkin segera mendapat pekerjaan baru setelah itu. Saya pun ingin dapat menyusui Bumbum secara eksklusif, sehingga paling tidak saya harus berada di rumah selama 6 bulan. Sedang perusahaan IT suami saya sedang tengah berkembang dan belum bisa mendukung untuk melahirkan di KMC.

Saya pun melirik BPJS Kesehatan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Asuransi milik pemerintah ini memang sangat membantu bagi pengguna fasilitas kesehatan dengan dana terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali. Saya memilih iuran untuk kelas 1 sebesar Rp. 59.500/bulan, dan klinik di Marinir Cilandak, yang dekat dengan rumah.

Kepuasan terhadap fasilitas BPJS ini sangat relatif ya, dan tidak bisa dibandingkan dengan fasilitas kesehatan seperti di KMC. Gratis vs bayar mahal. Karena antrian BPJS dijadikan satu sehingga untuk mendapatkan nomor antrian klinik kandungan, suami saya harus antri paling tidak pukul 7 pagi. Jika tidak akan kehabisan tempat. Belum lagi antri dokternya yang kadang datang jam 11 siang.

Pokoknya saya ngayem-ngayemin diri deh, tidak boleh mengeluh karena memang ini sekarang yang affordable. Yang penting semuanya dibuat happy saja.

Sebelum dirujuk ke rumah sakit Marinir Cilandak, kami harus mendaftar di faskes 1 yang sudah dipilih sebelumnya saat mendaftar BPJS, yaitu Marinir Cilandak. Di sini diperiksa oleh bidan, lalu mendapat rujukan ke rumah sakitnya untuk bertemu dokter dan diUSG. Rujukan ini berlaku 1 bulan. Dan untuk USG menggunakan fasilitas BPJS mendapat jatah 4 kali selama kehamilan.

Karena usia kehamilan saya sudah 7 bulan, dan sudah kebiasaan di USG ketika kontrol, maka saya pun menggunakan fasilitas USG itu terus-terusan. Memang gratis sih. Meskipun hanya dicolek saja sama dokternya ketika USG. Maklum yang antri banyak.

Akhirnya saya dimarahi bidan karena sudah ambil 3 kali USG, dan karena tidak bisa memanfaatkan fasilitas itu sebaik-baiknya. Apalagi setiap kali periksa kandungan saya sehat, dan tidak perlu periksa di rumah sakit, cukup di faskesnya saja dengan bidan.

Ini terjadi di 3 minggu sebelum HPL saya. Saya hampir nangis. Karena setelah bidan menjelaskan tentang dunia per-USG-annya BPJS, dia menjelaskan lagi bahwa saya pun tidak boleh melahirkan di rumah sakit ini. Karena semuanya normal maka saya harus mencari Puskesmas dan melahirkan normal di Puskesmas.

Yes. Saya baru ngeh kalau untuk melahirkan di RSU dengan BPJS haruslah yang kandungannya bermasalah, sehingga harus sesar. Jadi jika mau melahirkan gratis, harus dapat rujukan Puskesmas dulu dan dioperasi di RSU. Bukannya saya anti dengan Puskesmas, hanya saja saya antisipasi hal terburuk, misalnya saja saya memang harus sesar jadi tidak perlu repot ke rumah sakit lagi.

Saya sempat ngotot mau melahirkan di RSU dengan normal bahkan ketika saya bilang saya sanggup bayar, nggak apa-apa nggak pakai BPJS, karena memang RSU Marinir Cilandak sesuai dengan kantong saya. Untuk melahirkan normal menggunakan fasilitas VIP hanya 5 jutaan, dan jika harus sesar sekitar 10-15 juta.

Tapi bidan bilang tidak bisa karena saya terlanjur terdaftar sebagai pasien BPJS sehingga harus mengikuti fasilitas yang diberikan. Jika tidak, rumah sakit bisa dikira mangkir dari tugasnya untuk melayani masyarakat dengan murah. Ya, saya tak bisa salahkan juga.

Huff… Saya memang ngotot mau melahirkan normal, sehingga dengan berat hati pilihan melahirkan murah dengan BPJS ini tidak mungkin. Saatnya mencari RSIA lainnya sambil berdoa semoga tanggal mbrojolnya nggak maju.

Leave a Reply