Beha dan saya

Whose Red Bra, lukisan karya Tautvydas Davainis
Whose Red Bra, lukisan oleh Tautvydas Davainis

Saya pernah bermimpi. Sebuah beha terbang berukuran raksasa mengejar-ngejar saya. Saya lari tunggang-langgang menghindari beha yang mengejar saya. Saya berlari terus melewati gurun-gurun, gunung-gunung, bahkan saya berlari di atas air, di atas lautan. Agar beha tidak bisa menangkap saya, agar beha tidak tidak bisa membungkus tubuh saya.

Beha yang mengejar saya itu berwarna hitam, seperti beha yang dipakai ibu untuk kondangan. Pengaitnya ada tiga. Saya bisa melihatnya dengan jelas karena beha itu besar seperti burung gagak hitam raksasa. Saya juga selalu menengok ke belakang, agar saya tahu jarak beha itu dengan saya.

Akhirnya saya tersungkur kayu, saya terjatuh di lumpur, di sebuah hutan entah apa namanya. Lalu beha raksasa itu berhasil menangkap saya. Melilit tubuh saya. Saya sampai tidak bisa bernapas. Beha raksasa itu seperti ular piton, semakin saya menggerakkan tubuh untuk melepaskan diri, semakin dia melilit saya. Bahkan darah saya pun tidak diperkenankan mengalir. Aliran darah saya berhenti. Saya diam.

Saya bermimpi dikejar beha terbang raksasa berwarna hitam.

Esoknya, ibu membelikan saya beha. Beha berwarna hitam dengan ukuran 32A.

Saya jadi teringat mimpi saya, persis, pengaitnya juga ada tiga. Hanya saja, beha itu tidak berukuran raksasa dan tidak bisa terbang walau saya sudah lemparkan ke atas.

Saya merinding. Ngeri melihat beha itu.

Saya teringat beha raksasa dalam mimpi saya yang melilit-lilit tubuh saya sampai saya tidak bisa bernapas. Ibu heran melihat wajah saya yang ketakutan melihat beha yang baru dibelinya. Saya berlari ke kamar saya dan mengunci pintu. Ibu menggedor-gedor pintu kamar saya, berteriak agar saya keluar dari dalam kamar. Saya bilang tidak mau.

Saya takut beha yang dibeli ibu.

Ibu berhasil masuk. Ibu membujuk. Saya belum memakai beha. Ibu terus membujuk, saya tidak mau beha. Ibu bilang beha akan melindungi susu saya, agar jika tumbuh semakin besar tidak menggelambir seperti wewe gombel. Saya tambah ngeri. Saya bilang saya tidak punya susu, lalu saya tunjukkan pada ibu bahwa saya benar-benar tidak punya susu. Saya tidak mau memakai beha karena saya belum punya susu.

Ibu bersikeras memaksa saya untuk memakai beha. Ibu tidak percaya kalau saya tidak punya susu. Ibu telah melihat susu saya sudah menonjol dan berhak memakai beha. Saya bersikeras tidak mau. Ibu tetap bersikeras memakaikannya. Lalu ibu membuka baju saya dengan paksa, saya jadi menangis. Ibu berhasil memakaikan saya beha, saya tambah menangis. Beha itu melilit tubuh saya sekarang, seperti ular piton dalam mimpi saya. Saya menangis tidak mau beha, saya bersikeras melepas beha. Ibu menahan. Saya kesal pada ibu. Saya kesal pada beha.

Ini seperti ketika menstruasi pertama saya. Sebelumnya saya juga bermimpi dikejar-kejar oleh seonggok kapas putih raksasa. Bedanya, ia tidak melilit tubuh saya, tetapi ia menyedot darah saya, seperti lintah. Sampai saya kehabisan darah. Sampai tubuh saya berwarna putih pucat. Kemudian esoknya, darah menetes dari sebuah liang di antara selangkangan saya. Saya tidak tahu lubang yang mana, saya tidak pernah memperhatikannya. Saya tahu ketika ibu menjelaskan, darah itu keluar dari vagina namanya. Saya mengangguk-angguk mengerti dan segera menggunakan pembalut agar darah itu tidak menetes kemana-mana.

Saya bertanya ibu mengapa perempuan ditakdirkan untuk berdarah?

Ibu bilang memang begitulah kodrat sebagai perempuan. Ibu bilang darah itu harus keluar setiap bulannya, kalau tidak berarti ada yang menahan darah itu untuk keluar. Saya tidak mengerti maksud ibu yang ini. Ibu menjelaskan yang menahan darah itu bisa saja bayi dalam rahim atau penyakit. Ibu tidak menjelaskan lagi. Ibu hanya melanjutkan darah itu menunjukkan bahwa saya telah dewasa.

Lalu, apakah beha lebih menunjukkan bahwa saya perempuan dewasa? Apa menstruasi saja tidak cukup?

Ibu bilang tidak, saya akan terus berkembang dan tumbuh, termasuk susu saya, jadi saya harus memakai beha. Kelak saya akan menjadi perempuan seperti di televisi-televisi itu. Cantik, putih, berambut panjang, berbibir seksi, miliknya lelaki-lelaki kaya, dan bersusu indah. Itulah impian ibu.

Ibu kebanyakan menonton televisi. Saya malah ingin menjadi mandiri dan bukan dimiliki siapa-siapa, apalagi lelaki-lelaki kaya tapi buaya. Tidak usah cantik namun mengundang setiap mata ketika berbicara. Tidak usah putih yang penting tidak kanker kulit. Tidak perlu berambut panjang yang penting tidak mengekang. Tidak usah berbibir seksi yang penting nanti tidak menjerumuskan diri. Yang pasti, saya tidak mau bersusu indah, nanti saya memerlukan lebih banyak variasi beha dan lebih banyak uang. Iya kalau nanti saya jadi orang kaya, kalau saya hanya bisa jadi buruh beha, saya tidak tanggung malu ibu.

Terus terang, saya lebih suka mengenakan pembalut walau itu tidak memberi kenyamanan saya untuk bergerak. Tapi, saya tidak perlu memakainya setiap hari hanya beberapa hari saja setiap bulannya. Tidak seperti beha yang harus saya pakai setiap hari, setiap saat, seperti celana dalam.

Namun saya sadar, saya sudah punya susu. Saya harus pakai beha agar susu saya tidak seperti wewe gombel yang susunya bergelayut semaunya, kesana-kemari. Tapi saya tetap benci, talinya melillit tubuh saya kencang sekali. Sehingga membuat garis merah di kulit saya yang kadang membikin gatal. Kadang tali itu juga membuat saya tidak bisa bernapas dengan leluasa.

Saya mulai bersiasat dengan beha. Begini, saya tidak memakai beha ketika di rumah, saya hanya memakai beha ketika keluar rumah. Saya tidak mau terkekang beha. Saya masih ingin bermanja-manja pada ayah, ibu, dan kakak tanpa beha. Kadang ibu memarahi, ia bilang saya sudah dewasa, sudah memakai beha, tidak pantas bermanja-manja. Saya bilang saya tidak mau dewasa, tidak bisa bergelayut di pundak ayah, tidak bisa menciumi ketiak kakak, atau tidak bisa menyedot susu ibu. Ibu lebih memarahi saya jika saya tidak memakai beha. Saya tidak peduli, saya tidak mau terkekang beha. Ibu marah dan memaksa saya memakai beha. Ayah dan kakak tertawa-tawa.

Begitulah, sampai saat ini saya masih terpaksa memakai beha. Sekarang saya sudah punya beberapa beha di lemari saya, jumlahnya lebih dari lima. Sekarang ukurannya tidak lagi 32A, melainkan 34A. Bahkan beha-beha saya kebanyakan berenda-renda. Dan ketika saya memakainya, kulit di sekitarnya menjadi merah karena gatal kena renda. Susu saya terus tumbuh, menonjol dan penuh. Namun, saya tetap benci beha.

***

Kebencian saya pada beha semakin menjadi-jadi. Saat saya sedang duduk di dalam kelas, sedang serius mendengarkan pelajaran yang diajarkan, tangan-tangan usil di belakang saya menarik-narik tali beha saya hingga membuat punggung saya kesakitan dan merah. Sialnya, para penarik beha saya adalah laki-laki. Saya merasa direndahkan, saya merasa dilecehkan. Wajah saya merah, saya marah. Hampir saja saya menangis kalau saja saya tidak mengingat guru yang sedang berdiri di depan itu adalah guru tergalak di sekolah ini.

Kejadian itu tidak hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali. Saya tidak berani melapor karena mereka mengancam saya. Kata mereka kalau saya sampai berani melapor, mereka akan tambah mengganggu saya. Saya kemudian diam saja.

Saya mencoba bertanya pada mereka mengapa mereka sangat suka mengganggu dengan menarik tali beha saya. Hanya saya, bukan teman-teman perempuan saya yang lain. Tapi mereka malah tertawa-tawa dengan keras sampai menggelegar di dalam ruangan kelas. Mereka tambah mengolok-olok saya. Kemudian saya tidak menemukan jawaban.

Suatu hari, saya memutuskan untuk tidak memakai beha ke sekolah, tapi saya memakai miniset untuk menutupi payudara saya. Bentuknya seperti kaos dalam tapi panjangnya hanya setengahnya. Menurut saya miniset lebih nyaman dipakai daripada beha, memang sama sekali tidak seksi, tapi saya tidak terlalu terkekang oleh tali yang melilit.

“Kamu nggak pakai beha, Jeng?” kata teman perempuan saya.

“Nggak, emangnya kenapa? Tapi saya pakai miniset kok,” kata saya.

Mereka tertawa-tawa sambil berbisik-bisik satu sama lain setelah mengetahui saya hanya memakai miniset. Ah, bagi saya tidak masalah saya mau pakai beha atau tidak, yang penting saya merasa nyaman dengan apa yang saya pakai.

“Wah, Jeng, cantik-cantik kok nggak pakai beha sih?” kata teman laki-laki saya yang sering menarik tali beha saya.

“Wah, nggak bisa ditarik lagi nih talinya, ha.. ha.. ha…,”

Mereka juga tertawa-tawa hingga keluar air mata. Namun, saya tetap tidak peduli, saya lebih nyaman tidak memakai beha. Tidak terkekang oleh talinya dan juga tidak ditarik talinya oleh mereka. Saya tetap benci beha.

***

Fian Khairunnisa

Jogja, 8 Oktober 2006, 02:42 PM

Ps. Cerpen ini mendapatkan nominasi di Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD 2006. Yang mereka salah mengetik nama saya. Cerpen ini juga dibukukan bersama pemenang lainnya.

Leave a Reply