Apakah saya sudah menyapih dengan benar?

Menyapih Wikan

Saya punya janji untuk menyusui Wikan selama 2 tahun. Dan Alhamdulillah, janji tersebut bisa saya penuhi. Bahkan lebih…

Saat ini Wikan 27 bulan, dan belum siap disapih!

Kata teman, coba disapih dengan cara baik-baik, nggak pakai obat merah, atau apa lah itu yang aneh-aneh ditempel di puting. Katanya, disugesti aja anaknya biar nggak nenen.

Baiklah. Sejak Wikan 20 bulan mulai saya sugesti kalau dia sudah 2 tahun nggak boleh nenen lagi, karena udah gede, malu kan temen-temennya nggak ada yang nenen lagi.

Pas dia 24 bulan, saya lebih tegasin lagi nggak nenen. Dan dia tetap merengek-rengek nenen.

Pas dia 26 bulan saya coba cara emak-emak jadul pakai pahit-pahitan di puting. Saya sih naruh vitamin bubuk di puting, jadi pas dia nenen itu kerasa pahit. Dan akhirnya, tangis pun pecah!

Saya bilang, iya kalau Wikan udah gede nenennya jadi pahit, nggak enak. Trus Wikan sambil nangis bilang, “Dielaaaap, dielaaaap.” Saya suruh ngelap yang pahit-pahitnya. Akhirnya dia ngelap sendiri, tapi tetep aja masih pahit.

Apa salah dan dosaku sehingga aku harus disapih, ibuuuu
Apa salah dan dosaku sehingga aku harus menanggung derita ini, ibuuuu

Pecahlah itu semalaman nangisnya. Akhirnya minum susu kotak, klipak klipuk di kasur sambil ditenangin bapaknya. Minta gadget sih maksudnya, kan biasanya nggak boleh. Jadi kompensasi nggak boleh nenen dia minta gadget. Sama si bapak dikasih. Sampai dia pun tidur.

Walhasil tidurnya tenang, nggak kayak biasanya kalau tidur nenen. Kalau tidur pakai nenen, pasti kebangun terus dan musti ada simboknya di sampingnya. Duh enak banget lah kalau begini terus.

Hari kedua pun sama. Saya kasih pahit-pahitan lagi. Kali ini bocahnya agak mendingan, kayaknya mulai paham. Kejadian gadget semalaman terulang lagi, ketimbang bocahnya nangis.

Paginya, kompensasi nggak boleh nenen (biasanya nenen juga kalau pagi), anaknya minta es krim. Yaudah, ketimbang tantrum malah lebih repot, akhirnya lepaslah satu es krim.

Wikan makan es krim

Hari ketiga lebih tenang anaknya, udah mulai ngerti. Saya nggak perlu pakai pahit-pahitan lagi karena dia udah tau dan nggak mau nenen.

Hampir berhasil nih. Pikir saya.

Tapi… besoknya kami pergi ke Jogja dong. Dan tiga hari tanpa nenen itu jadi sia-sia. Karena di perjalanan simboke udah capek banget dan anaknya tantrum nggak jelas minta gadget nggak boleh, minta nenen nggak boleh.

Iya, ternyata menyapih itu lebih berat ketimbang nyusuin. Lebih capek. Karena harus dengerin tangisnya, yang bikin nggak tega. Trus, anaknya takut kalo simboknya nggak sayang lagi, jadi maunya nempel simboknya terus.

Simboknya angkat tangan kecapekan musti gendong semalaman, mulai nggak kuat . Plus kalau lagi traveling, muter-muter seharian dan rasanya sampai kasur itu ya tidur aja. Jadi kurang tidur simboknya karena maunya anaknya digendong mulu. Kalo dilepas langsung nangis atau minta gadget.

Fiuh. Hayati lebih lelah. Jadilah belum siap buat menyapih Wikan lagi. Karena kerjaan lagi banyak dan butuh lebih banyak tidur 😀

Apakah saya sudah menyapih dengan benar? Mak-mak ada yang punya pengalaman yang sama? Dan sudah berhasil? Bagi dong ceritanya itu gimana caranya ya?

Salam,

sign_fian

 

 

 

 

 

2 Comment

  1. Itu photo dia lucuk banget 😀 wkwkw sama captionnya pas pula “ibu apa salah dan dosaku” wkwkwk

    1. Hihihi, ahli dia mah kalo bikin muka begitu 😀

Leave a Reply